Dinasti Utsmaniyah
Sejarah
Kerajaan Ottoman adalah titik awal yang jelas, sebab semenjak pendudukannya terhadap Eropa Tenggara, kerajaan Ottoman menjadi pengulangan kolonialisme Islam yang agresif. Ottoman atau keluarga Bani Osmani ini adalah bagian kecil dari keseluruhan suku-suku bangsa Turki yang dikenal sebagai bangsa Turki yang masuk ke Anatolia atau Asia Kecil semenjak abad ke sebelas yang lalu. Bangsa ottoman adalah pemimpin-pemimpin yang terus-menerus berjuang menentang Byzantine, terutama setelah mereka bergerak ke Anatolia barat laut di abad ketiga belas. Pengikut-pengikutnya mendapatkan reputasi sebagai ghazi atau prajurit yang berjuang memerangi umat Kristen karena Iman, dan sebagai akibatnya adalah suksesinya yang sekarang dikenal sebagai dinasti Ottoman, yang menampung kerajaan-kerajaan kecil bangsa Turki yang lain. Pada tahun 1357 mereka menyeberangi Dardenalles menuju ke semenanjung Gallipoli dan sebelum akhir abad empat belas telah menduduki beberapa propinsi di kerajaan Byzantine, termasuk Yunani dan Bulgaria. Konstantinople sendiri akhirnya jatuh pada tahun 1453.
Awal abad ke enam belas adalah periode derasnya ekspansi
Ottoman lebih lanjut. Pada tahun 1517 Syria dan Mesir
diduduki dari raja-raja Mamluknya, walaupun sesudah
kemenangan pada tahun 1526 sebagian besar wilayah Hongaria
berada di bawah kekuasaan Ottoman dan pada tahun 1529
tentara Ottoman mengepung Vienna sekalipun tidak berhasil
merebut wilayah tersebut. Semenjak tahun 1534 bangsa Ottoman
mempunyai angkatan laut yang handal di Lautan Tengah dan
melaksanakan tugasnya dalam perang dengan Spanyol dan
kekuasaan kekuasaan Eropa yang lain. Algeria segera mereka
kuasai dan akhirnya menambahkan Tunisia sebagai wilayah
kerajaan Ottoman. Ottoman juga melanjutkan ekspansinya
menuju ke bagian tenggara, menduduki Iraq dan bagian-bagian
wilayah Arabia dan mempertahankan armadanya di Samudera
Hindia.
Elite Ottoman melihat peristiwa ini sebagai ekspansi
Islam yang berlangsung terus-menerus sampai meliputi seluruh
dunia dan perencanaan administrasi negara Kerajaan dirancang
untuk mempromosikan ekspansi lebih lanjut. Bagi bangsa Eropa
Barat, kemajuan Ottoman merupakan agresi Islam. Dengan
agresi Islam ini menegaskan bahwa Islam adalah agama
kekejaman dan agama pedang, yang menakutkan. Maka tidak
mengherankan kalau pada tahun 1542, Dewan Kota Praja Basel
di Switzerland membekukan sebuah penerbit karena mencoba
menerbitkan terjemahan Al Qur'an yang digarap oleh Robert
dari Ketton. Dewan Kota Praja ini mempertengkarkan kalau
"dongeng dan bid'ah yang dibuat-buat" dalam Al Qur'an itu
mengganggu umat Kristen. Namun demikian, sang pembaharu
besar -- Martin Luther mendesak bahwa penerbitan itu akan
lebih berbahaya ketimbang menguntungkan umat Islam dan
terlebih dahulu harus dihilangkan pada tahun 1543 bersamaan
dengan bahan-bahan ilmiah tentang Islam yang lain. [1]
Selama satu setengah abad kerajaan Ottoman masih tetap
kuat, namun di perempat akhir abad ke tujuh belas, mulailah
timbul tanda-tanda kelemahannya. Pengepungan atas Vienna di
tahun 1683 lagi-lagi mengalami kegagalan dan kerajaan
Ottoman kini menghadapi Persekutuan Suci dari Austria,
Polandia, Vennice dan Paus, begitu pula bangsa Rusia.
Semenjak tahun 1699 mereka telah banyak menderita kekalahan
dan dalam perjanjian damai Karlovitz, Ottoman harus
menyetujui penyerahan wilayah-wilayahnya kepada Austria,
Vennice dan Polandia. Sungguhpun demikian, mereka tetap
mempertahankan Eropa bagian tenggara, termasuk pantai barat
dan utara Laut Hitam. Namun pada abad sembilan belas,
Kerajaan Ottoman kembali kehilangan sebagian besar
wilayahnya yang dimulai dengan kemerdekaan Yunani pada tahun
1829 dan pendudukan Perancis atas Algeria pada tahn 1830.
Oleh karena kekuatan-kekuatan bangsa Eropa inilah kerajaan
Ottoman menjadi "the sick man of Europa" Orang Eropa yang
sakit dan hanya persaingan mereka inilah yang mencegah
terjadinya perpecahan-perpecahan yang dahulunya pernah
terjadi. Setelah kekalahannya dalam perang Balkan di tahun
1912-1913, semua wilayah ini masih tetap berada di bawah
Kerajaan Ottoman, dengan wilayah Eropanya adalah kawasan di
sekitar Istanbul meluas sampai ke sebelah utara Edirne
(Adrianople) dan ke barat sampai ke Gallipoli. Pada tahun
1922 bangsa Turki di bawah kekuasaan Mustafa Kemal menghapus
nama Kerajaan Ottoman dan diganti dengan bentuk Republik
Turki. Wilayah-wilayah propinsi Asia dan Afrika dahulu telah
hilang kecuali Anatolia yang masih berada di wilayah
Republik Turki ini.
Mesir agaknya merupakan kasus khusus. Muhammad Ali, opsir
Ottoman keturunan Albania, yang datang ke Mesir dengan
tentaranya yang mengusir Perancis. Muhammad Ali sejak tahun
1805 mengangkat dirinya sebagai pimpinan negara Mesir dan
dikenal oleh penguasa-penguasa Ottoman di Istanbul sebagai
Pasha atau gubernur dan jabatan pasha ini diberikan oleh
nenek moyang leluhurnya secara turun-temurun. Modernisasinya
di bidang militer menjadikannya mampu merebut Sudan dan
bahkan Syria dalam sesaat, dan secara umum mulai
memperkenalkan pendidikan model Eropa bagi bangsa Mesir.
Semenjak tahun 1882, para pengganti Muhammad Ali ini dengan
amat berat berhutang kepada kekuatan-kekuatan bangsa Eropa
sebagai hasil kemajuan militer dan menghabiskan dana yang
begitu besar, serta keuangan negara berada di bawah kontrol
Eropa. Ketika terjadi revolusi militer yang akan
membahayakan stabilitas keamanan negara, Inggris ikut campur
tangan atas separuh kreditor bangsa Eropa dan semenjak saat
itulah sampai tahun 1922 Residen Inggris adalah penguasa
Mesir yang sebenamya, sekalipun secara nominal masih
merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Ottoman dengan
keturunan Muhammad Ali sebagai Khedive atau kepala negara.
Pada tahun 1922 Mesir menjadi negeri yang merdeka secara
formal dengan rajanya adalah Fu'ad I.
Wilayah Kekuasaan Kerajaan Ottoman
0 Response to "Dinasti Utsmaniyah"
Post a Comment
Orang yang Baik Selalu Meninggalkan Komentar walau Kritikan